SLEMAN -- Mahasiswa UGM sukses meningkatkan aplikasi investasi sosial berbasiskan peternakan yang dinamakan Bantuternak. Aplikasi ini adalah basis yang mempertemukan investor dengan peternak sapi.

Startup yang diprakarsai Ray Rezky Ananda (Fakultas Peternakan), Hanifah Nisrina (Fakultas Kedokteran Hewan), dan Ayub serta Fata (Fakultas Tehnik) lewat arena innovative Academy 3 UGM ini diperkembang untuk menolong peternak sapi memperoleh modal beternak. Pengembangan usaha ini bermula dari keprihatinan mereka pada keadaan peternakan Indonesia terutama peternakan sapi yang makin mencemaskan.

“Jumlah peternak makin alami penurunan, satu diantaranya karna peternak susah peroleh modal untuk beli anakan sapi, ” kata CEO Bantuternak Ray Rezky, tempo hari. Karenanya ada tidak seimbangan supply daging, keadaan ini mengakibatkan Indonesia mesti mengimpor sapi dari luar negeri untuk penuhi keperluan daging sapi nasional.

Saat ini Indonesia masih tetap mengimpor 30 % daging sapi. Bahkan juga pada 2016 terdaftar Indonesia mesti keluarkan biaya satu triliun rupiah untuk impor sapi. Lihat keadaan ini, Ray berbarengan ketiga rekannya berinisiatif meningkatkan usaha sosial berbasiskan tehnologi untuk menolong peternak.

Diluar itu juga yang akan datang aplikasi ini diinginkan bisa jadi satu diantara jalan keluar dalam kurangi impor daging sapi. “Selain dapat memperoleh keuntungan, berinvestasi di Bantuternak juga menolong mensejahterakan peternak karna melibatkan serta memberdayakan orang-orang bawah, ” tuturnya.

Investasi Bantuternak bekerja dengan memberi satu sapi tiap-tiap ada investor masuk. Mengenai investasi yang di tawarkan dari mulai nominal Rp 10 ribu s/d tujuh juta rupiah dengan saat investasi periode pendek sepanjang lima bln..

Nanti, satu sapi dengan paket harga Rp 12 juta termasuk juga pakan serta vaksinasi bakal dipelihara peternak sepanjang lima bln. untuk lalu di jual kembali. Hasil serta keuntungan penjualan bakal dibagi pada investor, peternak, serta tim manajemen Bantuternak. Bentuk untuk akhirnya dengan persentase 70 % investor, 20 % peternak, serta 10 % tim manajemen.

Hanifah memberikan, lewat aplikasi Bantuternak beberapa investor bukan sekedar dapat lihat profil serta pilih peternak, namun dapat juga memantu perubahan ternaknya. Ada laporan mingguan yang menuturkan keadaan ternak, baik status kesehatan, berat tubuh, pakan, vaksin, serta estimasi harga jual.

Aplikasi yang baru launching di playstore pada akhir Mei 2017 ini sudah didownload tidak kurang dari 300 orang. Bahkan juga sekarang ini telah menggandeng 30 investor serta melibatkan 15 peternak sapi di Dusun Plemadu, Desa Sriharjo, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

“Sekarang lewat aplikasi ini kami telah dapat menolong satu peternak. Mudah-mudahan kedepan dapat bisa bejalan dengan cara bekelanjutan untuk mensupport program swasembada daging nasional 2020 serta tingkatkan perekonomian peternak desa dengan cara mandiri, ” kata Hanifah.