General Manager Kalibata City Ishak Opung menyanggah pihaknya memainkan tarif listrik serta air. Ia membanah tuduhan warga yang tertuang dalam tuntutan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

" Tidak ada, saya sempat berikan ke sebagian media kalau tak ada sempat naikin atau mark-up tagihan air serta listrik. Saya sangka itu sesuai sama ketentuan pemerintah kok, " kata Ishak saat dihubungi, Senin (19/6/2017).

Ishak mengacu pada Ketentuan Menteri ESDM Nomor 31 Th. 2015 mengenai Penyediaan Tenaga Listrik. Pihaknya juga menyanggah klaim warga kalau Tubuh Pengelola tidak transparan dalam mengelola uang warga.

Ia mengakui tiap-tiap bln. senantiasa tempelkan neraca keuangan di mading tower-tower warga. Menurut Ishak, problemnya yaitu warga terus-terusan mengeluh walau pihaknya seringkali mencari jalan tengah lewat mediasi.

" Berapakah kali (mediasi), aduh mereka ini telah sekian kali mereka sempat juga komplain. Saya mikir banyak maunya, untuk beberapa hal komplain, " katanya.

Ishak menyebutkan pihaknya siap ikuti sistem persidangan. Termasuk juga mematuhi ketentuan hakim bila tuntutan warga dipenuhi.

" Hukum memastikan seperti apa kami turut kok, " kata Ishak.

Mulai sejak pertama ditempati pada 2010, serentet yang dirasakan datang dari beberapa penghuni apartemen Kalibata City. Mereka diantaranya mengeluhkan belum juga diterimanya sertifikat, tidak berperannya pemrosesan limbah, sampai tagihan listrik, air, serta iuran pemeliharaan lingkungan (IPL) yang dipandang tidak transparan.

Sejumlah 13 warga pada akhirnya menuntut pengembang serta pengelola ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dengan kerugian menjangkau Rp 13 miliar.

Pengelola juga dituntut untuk menarik tagihan listrik serta air sesuai sama ketentuan. Tuntutan ini juga akan dibacakan pada sidang tanggal 17 Juli 2017.