BREAKINGNEWS.CO.ID - Pengamat Kebijakan Publik, Agus Pambagio mengatakan jika batas atas dan batas bawah harga tiket pesawat berfungsi untuk mengontrol harga tiket pesawat itu sendiri. Agus mengatakan jika tidak ada aturan yang diberlakukan seperti itu, maka maskapai penerbangan dikhawatirkan memainkan harga dengan semena-mena.

"Sebenarnya batas atas dan batas bawah itu kan hanya untuk mengontrol saja. Jadi jangan sampai maskapai besar yang memiliki armada besar banting harga," kata Agus kepada breakingnews.co.id saat dihubungi, Jum'at (11/1/2019).

Menurutnya, jika tidak diberikan batasan tersebut, hal lain yang dikhawatirkannya adalah akan berdampak terhadap matinya maskapai kecil yang memiliki armada kecil.

"Contohnya, anda mau ke Surabaya dari Jakarta hanya membayar Rp200 ribu. Nah, hal seperti inilah yang akan mematikan maskapai penerbangan lainnya dalam mengatur harga," ucap Agus. "Atau misalnya anda ingin ke Sumba dari Surabaya. Maskapai yang menyediakan penerbangan kesana kan cuma Lion Air. Kalau mereka tidak dikasih batas bawah, bisa banting harga mereka. Terus kalau tidak dikasih batas atas, mereka nanti kan bisa semena-mena. Jadi seperti itu contohnya," terang Agus.

Untuk itu, tambah Agus, pemerintah hadir dengan memberikan batas tersebut untuk mengurangi resiko banting harga dan menimbulkan matinya maskapai penerbangan lain.

Seperti diberitakan sebelumnya, adapun pernyataan ini juga disampaikan Agus mengingat naiknya harga tiket pesawat belakangan ini. Seperti dilihat breakingnews.co.id, per Januari 2019 harga tiket disejumlah layanan jasa penjualan tiket online belum mengalami penurunan.

Agus menilai jika kenaikan harga tiket pesawat saat ini ditenggarai karena adanya kenaikan batas bawah yang diatur oleh pemerintah. Adapun, batas bawah harga tiket pesawat tersebut naik menjadi 40 persen.

Naiknya harga tiket pesawat tersebut, pastinya berdampak pada turunnya minat para penumpang untuk menggunakan jasa transportasi udara ini. Agus pun tak menampik hal itu. Menurutnya, kejadian seperti ini juga dirasakan dengan menurunnya jumlah penumpang khususnya di sejumlah bandara-bandara besar di Indonesia.

"Pastinya mengurangi ya. Tapi kan ada pilihan lain. Sampai Tahun Baru 2019, jumlah penumpang kan mengalami penurunan di sejumlah bandara utama, terutama di Pulau Jawa. Karena kebanyakan orang saat ini sudah beralih menggunakan jasa bus atau menggunakan mobil pribadi," tegasnya.

"Jadi itu alamiah saja. Tidak bisa diatur. Jadi kalau misalnya maskapai merasa penumpangnya terus mengalami penurunan dan menutup penerbangan ke sejumlah wilayah, ya itu silahkan saja. Intinya soal harga tiket, pemerintah disini tidak bisa menaikkan atau menurunkan harga asalkan tidak melewati batas bawah yang sudah ditentukan," pungkas Agus.