BREAKINGNEWS.CO.ID – Presiden dari Partai Keadilan Rakyat (PKR) Anwar Ibrahim, menuturkan bahwa dia sudah sepenuhnya memaafkan Mahathir Mohammad, meskipun perdana menteri Malaysia tersebut tidak pernah meminta maaf secara langsung kepadanya.

"Saya tidak pernah meminta dia (Mahathir) meminta maaf. Saya selalu tegas bahwa saya merasa puas dengan sikap dan kesiapannya bekerja dengan saya. Lupakan masa lalu dan melihat ke depan," kata Anwar kepada wartawan seperti dikutip The Straits Times, Rabu (3/10/2018). "Anda atau mungkin BBC yang sebenarnya menuntutnya permintaan maaf."

Tidak hanya Mahahtir, Anwar bahkan juga mengaku sudah memafkan mantan PM Najib Razak. Mahathir serta Najib merupakan dua lawan politik Anwar yang pernah menjebloskannya ke penjara dan menjegal karir dia di pemerintahan. "Saya katakan saya sudah memaafkan dia (Mahahtir), bahkan Najib secara personal. Walaupun demikian, Najib tetap harus menghadapi masalah soal penyalahgunaan dana publik, ini hal yang berbeda," ucap Anwar.

"Tetapi menurut saya, hubungan dengan Mahathir, tidak perlu disamakan karena dia memiliki komitmen terhadap agenda reformasi. Dia telah merangkul saya sebagai mitra dalam membawa agenda reformasi. Itu sudah cukup." Pernyataan itu diutarakan Anwar menanggapi pernyataan Mahathir saat diwawancarai BBC HARDtalk pada Selasa (2/10) lalu.

Dalam wawancara itu, Mahathir membantah pernah meminta maaf terhadap Anwar setelah memecatnya sebagai wakil PM dan menjebloskan dia ke penjara pada 1998 lalu. "Saya tidak pernah mengatakan (maaf), orang lain yang menuturkan itu atas nama saya karena mereka ingin saya meminta maaf," ujar Mahathir. "Saya tidak pernah meminta maaf secara resmi kepadanya (Anwar)."

Relasi Anwar dan Mahathir bisa dibilang sangat kompleks. Anwar pernah menjadi wakil PM era Mahathir 1993-1998 sebelum pada akhirnya dipecat. Tak lama setelah itu, Mahathir menjebloskan Anwar ke penjara. Saat itu, Anwar dituding korupsi dan melakukan tindak pidana sodomi. Mahathir pun mengakui kalau dirinya yang berperan menjebloskan mantan wakilnya itu ke dalam bui.

Setelah cukup lama berseteru, relasi Anwar dan Mahathir mulai menghangat terutama ketika keduanya sepakat bergabung dalam koalisi Pakatan Harapan untuk mengalahkan pemerintahan mantan PM Najib Razak dan koalisinya Barisan Nasional yang dinilai korup. Pada pemilu Mei lalu, Anwar dan Mahathir sepakat untuk bersatu melawan Najib. Mahathir, yang ditunjuk sebagai ketua Pakatan Harapan, berjanji akan membebaskan Anwar jika menang pemilu. Saat itu, Mahathir juga bersumpah akan menyerahkan jabatannya kepada Anwar tak lama setelah pria 71 tahun itu kembali menjadi anggota parlemen Malaysia.