JAKARTA - Seorang tokoh top oposisi sekaligus pemimpin de facto Partai Keadilan Rakyat (PKR), Anwar Ibrahim resmi menghirup udara bebas setelah tiga tahun mendekam di balik jeruji besi, akan tetapi tidak membuat Anwar terburu-buru untuk terjun ke dunia politik pemerintahan Malaysia.

Dalam sebuah konferensi pers di kediamannya setelah bebas dari hukuman penjaranya, Anwar juga menjelaskan bahwa dirinya tidak tergesa-gesa mengincar jabatan perdana menteri Malaysia, walaupun PM yang baru terpilih, Mahathir Mohamad, sudah mengisyaratkan untuk 'menjanjikan' posisi itu kepadanya sejak kampanye Pemilu 2018 bergulir.

"Sekarang saya ingin membantu dan mendukung pemerintahan yang baru (yang dipimpin PM Mahathir) sebagai warga negara biasa," kata Anwar pada Rabu (16/5/2018). Pria yang oleh para pendukungnya dijuluki sebagai 'Bapak Reformasi Malaysia' itu mengatakan akan menghabiskan masa awal kebebasannya untuk berkecimpung di dunia akademik.

"Saya mendapat undangan dari universitas ternama untuk menerima serangkaian kuliah umum atau beasiswa, dari Harvard University, George Washington University, Stamford University, dan (universitas) lainnya di negara muslim," tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, mantan deputi perdana menteri Malaysia itu berterima kasih kepada PM Mahathir Mohamad dikarenakan sudah membantu proses diberikannya pengampunan dari Raja Malaysia, Sultan Muhammad V, yang menjadi syarat paling utama bagi dirinya untuk bebas dari penjara.

Anwar Ibrahim sudah menerima pengampunan dari Raja Malaysia pada 16 Mei 2018, sekitar pukul 11:00 waktu setempat. Pengampunan itu diperoleh Anwar saat dirinya baru saja selesai menjalani operasi atas permasalahan cedera bahu di Rumah Sakit Rehabilitasi Cheras, Kuala Lumpur.

Sejak beberapa bulan terakhir, Anwar menjalani menjalani masa hukumannya di Rumah Sakit Rehabilitasi Cheras, untuk menjalani perawatan dan pemulihan atas cedera bahu yang ia derita. "Sesuai dengan Pasal 42 Konstitusi Federal Malaysia, Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, atas nasihat dari Dewan Pengampunan, secara sadar mengabulkan pengampunan penuh dan pembebasan kepada Anwar Ibrahim sesegera mungkin, bersamaan pada hari pertemuan Dewan Pengampunan (pada 16 Mei)," lanjut Wan Ahmad Dahlan Ab Aziz, Comptroller of the Royal Household Istana Negara.

Anwar terbebas dari seluruh dakwaan hukum yang sempat membelitnya dan diizinkan untuk terjun kembali ke kancah politik Negeri Jiran. "Pengampunan itu seutuhnya membuktikan bahwa ia (Anwar) tidak bersalah," kata Nurul Izzah, putri Anwar Ibrahim. Anwar Ibrahim mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Sungai Buloh sejak Februari 2015, usai menerima vonis 5 tahun penjara atas kasus sodomi terhadap mantan asisten pribadinya.

Kala itu, kasus tersebut dinilai sarat kontroversi. Beberapa pihak menyebutnya sebagai 'peristiwa yang dibuat-buat' guna mendiskreditkan Anwar Ibrahim dalam kancah perpolitikan Malaysia.