BREAKINGNEWS.CO.ID  - Menghadapi kemungkinan terjadi perang dagang global yang berkelanjutan, Indonesia memerlukan sejumlah perangkat untuk bisa meminimalisir dampak yang bakal  timbul. Menterii Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebutkan setidaknya Indonesia memerlukan dua hal, pertama mempersiapkan materi dan posisi yang diambil sudah jelas. Kedua, menyiapkan negisiator handal guna  menghadapi pertentangan  yang timbul akibat  melemahnya mekanisme solusi multilateral yang selama ini dijadikan andalan

Pernyataan Sri itu terpampang di situs media social resmi kementerian keuangan, Minggu (1/12/2018). Di laman itu mantan direktur pelaksana Bank Dunia ini mengatakan, dua tersebut perlu menjadi perhatian  karena pemulihan ekonomi yang masih belum merata serta kebijakan ekonomi antara negara yang makin tidak sinkron dan tidak searah diperparah oleh kebijakan konfrontasi perdagangan. "Perang dagang telah melahirkan keinginan G20 untuk melakukan reformasi multilateral dalam World Trade Organization (WTO)," ujarnya.

Sri mengharapkan Pertemuan Tahunan G20 tingkat pimpinan negara yang berlangsung di Buenos Aires, Argentina itu  bisa  menghasilkan keputusan yang menentukan arah ekonomi dan tata kelola global.

Dalam kesempatan yang sama, Sri kembali mengingatkan peluang dan ancaman yang datang dari ekonomi digital terhadap kesempatan dan jenis pekerjaan di masa depan, akan tetap menjadi perhatian G-20. Itu tak lain karena fenomena baru tersebut akan berpengaruh terhadap kebijakan ketenagakerjaan, jaring pengaman sosial, dan perpajakan. "Dunia akan semakin kompleks dan globalisasi serta kemajuan teknologi akan memberikan banyak kesempatan untuk maju dan mengejar ketertinggalan, namun juga menyajikan kerumitan dalam mengelola perekonomian dan sosial suatu negara. Indonesia harus makin keras dan cerdas dalam membangun perekonomian kita," katanya.

Sri Mulyani menyakini fokus Presiden Jokowi untuk membangun kualitas sumber daya manusia dan infrastruktur sudah merupakan hal yang benar, karena bermanfaat untuk pemerataan dan peningkatan produktivitas serta daya kompetisi negara. "Indonesia tetap perlu membangun kapasitas anak-anak bangsa dalam memahami dan menghadapi globalisasi ekonomi, perubahan teknologi dan dinamika geo-politik yang makin rumit dan menantang. Ini tantangan yang harus dihadapi dan dijawab oleh generasi milenial kita," ujarnya.