BREAKINGNGEWS.CO.ID-Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus melakukan pembenahan terhadap kawasan wisata Kota Tua. Bahkan tidak sedikit revitalisasi dikejar demi mempercantik wisata itu menjadi lebih baik dari sebelumnya. Namun usaha itu masih dinilai kurang maksimal, UNESCO telah merilis 18 kawasan world heritage (warisan dunia) dan faktanya kota tua masih juga belum terpilih.

Menanggapi hal tersebut, Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan menilai ada satu permasalahan yang belum mendapat kejelasan dan itu disebabkan oleh adanya kasus reklamasi. Saat ini di Teluk Jakarta ada belasan pulau yang nasibnya belum jelas dan membawa dampak buruk untuk Jakarta sendiri hingga tidak bisa meraih penghargaan dari UNESCO.

“Saya melihat reklamasi memang harus kita bereskan berapa dampaknya ternyata besar bahkan di dalam penilaian mengenai kota tua pun bersampak jadi jangan anggap sepele perubahan wilayah di pesisir Jakarta. Jadi karena karena itu mau kita tata serius. Jakarta ini kota bersejarah yang kalau terbuang percuma tempat bersejarah dari catatan dunia,” ujar Anies di Balaikota, Jakarta, Jumat (6/7/2018).

Kasus Reklamasi

Senada dengan rekan kerjanya, Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Salahuddin Uno juga menyebut belum dapatnya penghargaan dari UNESCO disebabkan kasus reklamasi. Di mana ada persyaratan untuk dapat perhargaan itu adalah tidak boleh mengubah bentuk dan struktur. Sementara reklamasi jelas-jelas melakukan perubahan. “Karena waktu UNESCO mereview itu enggak boleh bergerak tempatnya. Tempatnya harus statis dan harus bisa menjadi cagar budaya, situs budaya yang tidak bisa diotak-atik,” ujar Sandiaga.

Selain reklamasi ada pula penyebab lainnya yakni artefak-artefak terdapat di Kali Besar, yang sebenarnya tidak boleh tersentuh oleh apapun meskipun beberapa waktu lalu sudah dilakukan revitalisasi.
“Tapi intinya waktu didesaign dulu secara perencanaan tidak melibatkan swasta. Tidak melibatkan keseluruhan pemilik bangunan di sini. Ini buat kami menjadi pelajaran juga bahwa ternyata kalau dilakukan tidak secara komprehensif dan kawasannya terlalu luas, maka susah kordinasinya, akhirnya malah menjadi temuan,” ungkap dia.