BREAKINGNEWS.CO.ID - Nusa Dua, Bali, menjadi tuan rumah Annual Meetings IMF-World. Ajang pertemuan tahunan Indonesia World Bank 2018 ini menjadi kesempatan Indonesia untuk menyampaikan pandangan dan gagasan Indonesia dalam isu-isu international yang berlangsung sejak tanggal 8 Oktober hingga 14 Oktober 2018 di Badung Bali.

Indonesia tercatat sebagai negara ke-4 di ASEAN, setelah Filipina, Thailand, dan Singapura, yang pernah menjadi tuan rumah penyelenggaraan acara yang menampung belasan ribu peserta dari 189 negara anggota.

Rencananya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan menghadiri pertemuan ini sekaligus membukanya pada 11-12 Oktober 2018. Di dua hari itu, dijadwalkan juga menjadi puncak pertemuan dimana akan ada banyak bilateral meeting yang melibatkan para petinggi negara di dunia.

Dalam pertemuan tahunan ini, setidaknya ada beberapa isu yang akan diangkat. Pertama yang akan dibahas adalah penguatan International Monetary System (IMS). Isu kedua adalah ekonomi digital. Perkembangan ekonomi digital dipengaruhi oleh berbagai risiko.

Selanjutnya isu ketiga, pembahasan mengenai bagaimana solusi kebutuhan pembeiayaan infrastruktur di negara berkembang dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Dan isu ke empat mengenai ekonomi dan keuangan syariah.

Agenda tahunan IMF-Bank Dunia 2018 di Bali digelar saat Indonesia tertimpa bencana alam. Sementara, anggaran pertemuan itu tidak sedikit, yakni sekitar Rp 800 miliar.

Hasilnya, terdapat kalangan yang meminta agar anggaran pertemuan dialihkan untuk pertolongan korban bencana. Tetapi, Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde menyatakan pengelolaan bencana Indonesia sudah berjalan baik.

Wanita berkebangsaan Prancis itu pun percaya bahwa Indonesia tidak membutuhkan utang dalam menanggulangi bencana. "Utang IMF bukanlah pilihan, sebab ekonomi Indonesia tidak membutuhkannya," ucap Lagarde dalam pernyataan resminya seperti dikutip Rabu (10/10/2018).

Selanjutnya, Lagarde turut memuji langkah penanggulangan yang dilakukan oleh presiden, menteri-menteri kabinet serta gubernur Bank Indonesia. "Ini sudah dikelola dengan baik oleh Presiden Jokowi, Gubernur Perry, Menteri Sri Mulyani dan Menteri Luhut dan para kolega mereka," imbuh Lagarde.

Pihak IMF pun memilih menunjukkan solidaritas mereka untuk mengirimkan donasi. Uang yang dikumpulkan bersifat pribadi dari para staf IMF.

"Dan maka dari itu, sebagai simbol solidaritas dengan rakyat Indonesia, staf IMF, didukung oleh manajemen, memutuskan untuk membuat kontribusi dalam usaha pertolongan secara personal dan sukarela," kata Lagarde.

Hasil sumbangan dari staf IMF berhasil mencapai angka Rp 2 miliar. Donasi tersebut akan dikirim untuk bencana Lombok dan Sulawesi. Lagarde pun berkata akan membuka kesempatan hal serupa untuk para partisipan Pertemuan Tahunan agar mereka juga bisa berkontribusi.