BREAKINGNEWS.CO.ID--Perubahan modus kelompok pro-kekerasan dan terorisme dari model konvensional ke digital menempatkan anak muda menjadi sangat rentan. Secara demografis, generasi milenial mendominasi ruang maya yang tak terbatas. Sementara kelompok radikal terorisme menjadikan ruang ini sebagai arena baru penyebaran propaganda, indoktrinasi dan rekrutmen.

Pola berpikir ini bisa dibalik dengan menjadikan anak muda yang rentan menjadi milenial cerdas sebagai ujung tombak pencegahan konten kekerasan dan radikalisme di dunia maya dengan bahasa milenial. Mengingat karakter dunia maya yang tak terbatas (borderless), gerakan milenial peduli dunia maya harus menjadi gerakan global. Butuh generasi milenial atau duta-duta damai di dunia maya baik pada level nasional, regional hingga global untuk berkolaborasi menebarkan pesan-pesan perdamaian.

“Duta damai dunia maya, pertama harus kuantatif dan luas sehingga bisa menjangkau lebih banyak karena arus radikalisme dan propaganda ekstremisme itu sangat cepat dan banyak sehingga perluasan duta damai dunia maya harus eksponensial, tidak bisa satu-satu,” ujar Irfan Amalee dari Peace Generation Indonesia di Jakarta, Kamis (25/4/2019).

Apalagi, lanjut Irfan, dengan keberadaan sosial media (sosmed) dimana kesempatan untuk eksponensial itu sangat besar. Itu telah dimanfaatkan kelompok radikal untuk melakukan propaganda dan penyebaran pahamnya melalui sosmed.

Faktor kedua, kata  Irfan, generasi muda terutama duta damai dunia maya harus memiliki kualitas dan kemampuan dalam membuat berbagai konten baik itu gambar, tulisan, video, maupun games. Kualitas ini sangat penting karena faktanya konten-konten kelompok radikal dibuat dengan kualitas yang sangat baik. Artinya kalau konten itu tidak diimbangi konten damai yang berkualitas, maka penyebaran konten propaganda radikal terorisme sulit dibendung. Pasalnya, masyarakat pasti akan lebih suka dengan konten yang berkualitas dan bagus, dibandingkan konten yang dibuat seadanya.

Selain itu, duta damai dunia maya harus bisa membuat konten yang banyak dan bagus sehingga mereka bisa menjadi agen perubahan (agent of change). Juga harus benar-benar dapat esensinya. Duta damai dunia maya juga harus paham siapa kawan dan siapa lawan dalam membuat konten,” jelasnya.

“Jadi dengan memiliki kualitas bisa menjadi orang muda yang layak bicara tentang radikal terorisme dan dia harus dapat poinnya dalam konten yang dibuat. Juga harus bagus kualitasnya, pemahaman, metode, dan harus kreatif. Kalau sekarang visual is the king. Kalau gambar atau videonya biasa ajak dan gak menarik, pasti tidak ada yang mau melihatnya,” ungkap pria jebolan Brandeis University, Waltham, Massachusetts, USA ini.

Irfan mengaku sejauh ini Peace Generation lebih banyak membuat konten berupa games. Pertimbangannya games itu bias lebih cepat menarik perhatian anak muda. Apalagi games itu sangat menarik dan menantang.

“Games itu menurut survei di kelompok milenial, semuanya sudah gemifikasi. Mau aplikasi apa saja sudah digemifikasi. Games itu sudah jadi bahasa muda. Games itu  sebenarnya pola pembelajaran atau penularan gagasan dengan pengalaman, jadi bukan dengan pengajaran bukan dengan ceramah. Main games 40 menit sama dengan mendengarkan ceramah 4 jam, banyak yang diselipkan di sana dan itu tidak diceramahkan, tapi mereka bisa mencari solusinya,” papar Irfan.

Irfan menegaskan keberadaan anak-anak muda yang berkecimpung sebagai duta damai dunia maya ini sangat tepat. Pasalnya, dunia maya harus terus dipenuhi konten damai agar konten-konten kekerasan dan terorisme tidak bisa muncul dan menjadi viral.

Pun sudah tumbangnya dedengkot kelompok radikal, ISIS di Suriah dan Irak, Irfan menilai upaya-upaya pencegahan seperti pembentukan duta damai dunia maya Asia Tenggara oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme sangat efektif. Pasalnya, meski ISIS telah tumbang secara formal, tapi ideologinya tetap menyebar.

”Orang yang kembali dari Suriah belum tentu sudah kembali pikirannya. Dengan tumbangnya secara formal, mereka tetap menyebar dan mencari tempat untuk terus menyebarkan ideologinya yang justru lebih sulit terdeteksi. Itu lebih bahaya dan tidak bisa dikatakan sudah selesai, justru sepertinya penyebaran ideologi mereka seakan baru mulai,” tandas Irfan Amalee.