BREAKINGNEWS.CO.ID – Berbanding terbalik dengan sumbangan industry tembakau terhadap pendapatan negara, pemerintah RI cenderung menganaktirikan para petaninya. Menurut  Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI)  saat ini  kontribusi pemerintah dalam membantu dan mempermudah mereka  dalam memasarkan hasil kebun mereka  masih rendah.

Salah satu  bukti sikap itu adalah keluarnya regulasi kenaikan  besaran cukai rokok yang itu berdampak negatif secara langsung kepada nasib para petani.

Padahal, kenaikan cukai tersebut justru akan membesarnya peredaran rokok illegal yang secara langsung justru merugikan pemerintah.

 Sementara untuk para petani, tambahnya, kenaikan cukai itu tidak masalah, karena para pelaku industri masih membeli tembakau ke petani. "Dibanding negara negara lain di Indonesia sendiri tidak adil dalam membantu dan membela petani," kata Ketua AMTI,  Budiyono di Jakarta, Kamis (15/8/2019) seperti dikutip laman Antaranews.com.

Sebelumnya di sela sela Road to World Tobacco Growers Day (WTGD) 2019 di Desa Citaman, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Budi menyatakan, selain cukai masih terdapat regulasi yang menambah tekanan kepada industri hasil tembakau.

Selain itu peraturan peraturan daerah tentang tanpa rokok berdampak juga terhadap industri sehingga cukai tetap berdampak karena itu menyangkut kepada daya beli masyarakat," ujarnya.

Pada bagian lain,  Ketua Asosiasi Tembakau Indonesia (APTI) Jawa Barat Suryana mengatakan, Jabar merupakan salah satu provinsi penghasil tembakau nomor satu di Indonesia dari segi kualitasnya.

Untuk kalangan dunia, tambahnya, Jawa Barat merupakan daerah penghasil tembakau terbaik nomor lima. Saat ini lahan untuk perkebunan tembakau di kabupaten Bandung hanya memiliki luas 1.524 hektar termasuk Desa Citaman, Kecamatan Nagreg.

Produksi tembakau di Desa Citaman, tambahnya, 10 -14 ton /hektar tembakau basah atau sekitar 3 - 5 ton daun tembakau kering.

Untuk keseluruhan Jawa Barat Suryana mengatakan produksinya mencapai 38 ribu ton, lebih rendah dari kebutuhan tembakau di provinsi tersebut yang sebanyak 138 ribu ton per tahun. "Untuk memenuhi kekurangan kebutuhan di Provinsi Jabar, kami mendatangkan dari Jawa Timur sekitar 70 ribu ton tembakau kering dan selebihnya dari Nusa Tenggara Timur (NTB)," katanya.

Suryana juga mengatakan salah satu keunggulan produk tembakau dari Jabar adalah tembakau yang dihasilkan dapat dimodifikasi warna sesuai kebutuhan pasar. "Keunggulan tembakau di Jawa Barat adalah bisa dimodifikasi warna sesuai kebutuhan pasar, misalkan ingin membuat tembakau merah, hijau putih, kuning dan coklat. Ini keunggulan Jawa Barat. Sementara yang lain tidak ada," ujarnya