BREAKINGNEWS.CO.ID-"Bung, kalau politisi nyaleg itu mah dah biasa. Tapi kalau ORANG BOLA nyaleg...itu baru luar biasa...!!! Nggak pake banyak janji, berusaha berbuat baik aja sudah sulit...Bravo sepak bola.."

Rangkaian kalimat itu--tidak lebih dan tidak kurang-dikutip langsung dari akun fesbuk Alief Syachviar Ma'sud. Sejak diposting Sabtu (22/9/2018) jelang tengah malam hingga Minggu (23/9) pagi mendapatkan ratusan like, ratusan komentar, dan beberapa kali dibagikan. Salah satu yang berkomentar adalah rekannya sesama mantan wartawan olahraga yang sudah lebih dulu menjadi wakil rakyat di DPRD DKI Jakarta, Steven Setiabudi Musa. "Selamat, rekan, semoga sukses!".

Pencapaian Steven Setiabudi Musa mungkin saja menginspirasi langkah Alief. Steven sudah menjadi caleg saat pemilihan umum legislatif (pileg) 2014, di mana politisi PDIP itu kemudian terpilih menjadi anggota DPRD DKI Jakarta 2014-2019, dan kini berjuang kembali untuk bertahan di Kebon Sirih. Walau demikian, Alief Syachviar sendiri sebenarnya ditulari 'darah politik'. Mantan reporter RRI dan produser olahraga di stasiun televisi Antv ini adalah keponakan dari Aqsanul Qasasi, mantan bendahara dan Exco PSSI yang sejak muda terjun ke politik dan kini menjadi salah satu petinggi di Partai Demokrat. Tentu berasalan jika Aqsanul Qasasi, pernah di DPR dan kini angota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), turut mendorong Alief Syachviar agar eksis di politik.  

Aqsanul Qasasi pula yang membawa Alief Syachviar ke Partai Demokrat, memperkenalkannya ke jajaran petinggi partai, membuat Alief kemudian memutuskan all-out menerjuni politik. 

Alief Syachviar Ma'sud menjadi caleg DPR RI nomor urut 7 dari Partai Demokrat di daerah pemilihan (dapil) Jatim VI yang meliputi Tulungagung, Blitar, dan Kediri (TBK).

"Saya maju sebagai calon anggota legislatif lebih karena merasa tertantang. Sebab sebagai orang yg besar di dunia media olahraga, khususnya sepak bola, saya merasa penasaran kenapa kok minim sekali wakil rakyat dari kalangan sepak bola, termasuk dari teman teman media. Sementara dari kalangan lain seperti artis hampir setiap pemilihan caleg selalu ramai," papar Alief Syachviar terkait kesiapannya 'berperang' di dunia politik melalui kontestasi pileg 2019.

"Saya ingin membuktikan kalau 'orang bola' juga bisa duduk di Senayan. Selain itu, saya ingin buktikan kalangan olahraga dan media juga layak duduk di DPR RI," tegas Alief, putra dari salah satu reporter dan penyiar RRI  fenomenal, alm.Ripto Syachvidi.

"Ini adalah kali pertama saya terjun di dunia politik. Meski belum berpengalaman, menurut saya politik itu bisa memberikan manfaat asal dilakukan dan dijalankan oleh orang yang baik dan jujur. Sehingga politik menurut saya tergantung kepada siapa yang memainkan perannya. Ibarat sepak bola, semua aturan sudah jelas, jadi kalau dapat kartu merah ya itu karena si pemainnya yg bermain kasar. Bukan salah sepak bolanya," terang Alief, yang tahun silam menjadi kandidat Sekjen PSSI.

"Kendati berangkat sebagai 'orang bola', saya memahami sejumlah persoalan di daerah pemilihan saya yaitu Dapil Jatim VI yaitu Tulungagung, Blitar dan Kediri. Salah satunya adalah peningkatan taraf hidup para TKI / TKW yang banyak berasal dari daerah Tulungagung, Blitar dan Kediri. Bagaimana solusinya? Tentu ada beberapa cara, salah satu di antaranya adalah dengan memberikan keterampilan tambahan, peningkatan skill para TKI dengan membuat pelatihan tambahan sehingga mereka punya nilai tambah. Program pelatihan tersebut bila perlu dibuat dalam satu payung asosiasi sehingga punya keseragaman. Kalau ketrampilan TKI lebih baik, maka gaji merekapun bisa lebih tinggi di luar negeri. Apalagi ke depan tuntutan pekerjaan di luar negeri juga menuntut kualitas SDM yang lebih meningkat," Alief menjabarkan.

Dia menegaskan, program peningkatan keterampilan para TKI bisa dilakukan dengan gratis, dengan melibatkan banyak pihak melalui kemasan khusus.

Hal lain yang jadi perhatian Alief Syachviar adalah kaum buruh yang bekerja outsourching. Dikawasan industri seperti Kediri dan Blitar banyak buruh yang bekerja dengan hak hak yang tidak layak. Alief menegaskan, dia akan berjuang mendukung dihapuskannya outsourching buruh pabrik sehingga mereka bisa bekerja lebih tenang dan nyaman, yang pada akhirnya bisa meningkatkan produktifitas kerja pabrik.

Alief Syachviar juga menyoroti sektor industri kecil dan kreatif yang banyak tumbuh dan berkembang dikawasan Tulungagung, Blitar dan Kediri. Pesatnya pertumbuhan industri kecil dan kreatif ini harus dibarengi dengan kemudahan akses permodalan, perluasan jaringan pasar dan peningkatan produktivitas. Para pelaku industri kecil dan kreatif ini harus mendapatkan bantuan, bimbingan dan konektifitas satu sama lainnya sehingga perlu diperluas wadah yang sudah ada atau dibentuk. Perlu wadah baru untuk mendukung produktifitas mereka.

"Saya berharap hasil mereka bisa terjual menembus sampai ke mancanegara. Mereka perlu kita bantu agar punya akses permodalan dan produknya bisa eksport ke luar negeri," papar Alief Syachviar yang asli Madura itu.