BREAKINGNEWS.CO.ID - Jelang libur akhir pekan Jumat (9/11/2018), nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan  (IHGS)kompak tertahan. Keputusan bank sentral AS yang kemungkinan akan menaikkan suku bunga  membuat mata uang rupiah dibuka melemah sebesar   75 poin menjadi Rp14.555 dibandingkan posisi sebelumnya Rp14.480 per dolar AS. Sementara di BEI, IHSG juga tercatat menurun seiring aksi ambil untung investor di hari terakhir perdagangan pekan ini.

Analis senior CSA Research Institute Reza Priyambada di Jakarta, Jumat mengatakan pergerakan rupiah cenderung mulai tertahan terhadap dolar AS menjelang pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada Desember.

"Menjelang pertemuan The Fed, pergerakan rupiah berbalik turun," katanya.

Ia menambahkan peluang bagi the Fed untuk kenaikan suku bunga acuannya (Fed Fund Rate/FFR) secara berkala membuat pelaku pasar kembali beralih ke dolar AS. "Pengetatan moneter di Amerika Serikat masih terus berlangsung hingga tahun mendatang," katanya.

Di sisi lain, lanjut dia, penguatan rupiah dalam beberapa hari terakhir ini juga turut dimanfaatkan oleh sebagian pelaku pasar untuk ambil untung.

Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan pergerakan dolar AS masuk dalam fase konsolidasi setelah hasil pemilu sela kongres Amerika Serikat yang sudah sesuai prediksi pasar.  "Penguatan dolar AS mengindikasikan investor masih cukup berminat pada aset di Amerika Serikat," katanya.

 

Situasi serupa juga terjadi di lantai bursa pada pembukaan perdagangan Jumat, dimana indeks  melemah dipicu aksi ambil untung sebagian investor.

IHSG BEI dibuka melemah 42,62 poin atau 0,71 persen menjadi 5.934,17. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak turun 10,62 poin atau 1,11 persen menjadi 944,74.

Masih menurut Reza, sebagian pelaku pasar saham memanfaatkan kenaikan IHSG dalam beberapa hari terakhir ini untuk posisi ambil untung."Aksi ambil untung itu membuat laju IHSG menjadi tertahan," katanya.

Ia menambahkan bahwa pada perdagangan kemarin (Kamis, 8/11), volume perdagangannya mulai menipis sehingga rawan aksi ambil untung pada akhir pekan ini. "Diharapkan, masih bertahannya investor asing di pasar saham dan diikuti harapan positif data angka transaksi berjalan dapat menahan tekanan IHSG lebih dalam," katanya.