BREAKINGNEWS.CO.ID - Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto akhirnya memilih Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno menjadi cawapres yang akan mendampinginya di pilpres 2019. Bahkan, Prabowo dan Sandiaga telah mendaftarkan diri di Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI pada Jum'at (10/8/2018) kemarin dan Sandiaga pun telah resmi mengundurkan dirinya dari jabatannya sebagai pimpinan di DKI. Lantas, bagaimana nasib sembilan nama yang selama ini terus digaungkan oleh PKS termasuk dengan nama yang direkomendasikan oleh ijtima ulama sebagai cawapres pada Sabtu (28/7/2018) itu?

Juru bicara DPP PKS Muhammad Kholid mengungkapkan alasan terpilihnya Sandiaga Uno menjadi cawapres Prabowo. Menurutnya, hal itu setelah adanya pertimbangan kemaslahatan antar partai koalisi. Ia mengatakan dalam koalisi itu, tidak hanya Gerindra dan PKS, namun dalam koalisi itu juga terdapat partai lain yang juga mendorong kadernya agar terpilih menjadi cawapres. "Memang disini ada semacam titik temulah, dimana PKS punya calon, kemudian PAN punya calon dan Demokrat juga punya calon dan sebagainya. Sehingga munculah titik temunya, artinya kita sudah pertimbangkan kemaslahatan," katanya saat ditemui wartawan usai diskusi publik di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (11/8/2018).

Menurutnya, PKS sendiri pada detik-detik terakhir masih mempertahankan nama yang direkomendasikan dalam ijtima ulama itu. Namun menurut Kholid, dalam berpolitik tudak bisa memaksakan ego masing-masing parpol dalam koalisi. "Dan tentunya kita membahasnya secara kolektif dan politik. Nggak bisa dong memaksakan ego dan lain sebagainya. Kita membahas apa pilihan yang paling optimal bagi tim koalisi sehingga munculah Bang Sandi," tuturnya.

Kendati demikian, Kholid juga membantah jika hal itu tudak sesuai dengan hasil rekomendasi di ijtima ulama tersebut. Ia menjelaskan jika dalam ijtima ulama itu yang diusung sebagai cawapres Prabowo yakni ada dua nama, dimana salah satu nama itu termasuk nama Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al Jufri. Meski pada akhirnya tak memilih keduanya, namun dari awal kata Kholid pihaknya telah mendukung mantan Danjen Kopassus itu sebagai capres. "Jadi begini, kalau ini dikatakan tidak sesuai, ini tidak sepenuhnya benar. Karena kalau kita lihat ijtima ulama itu putusannya adalah Pak Prabowo juga  masuk disitu walaupun yang di ambil hanya separuhnya. Jadi dua putusannya Pak Prabowo dan dia masuk dua-duanya, Pak Prabowo dengan Pak Habib Salim atau Pak Prabowo dengan Ustad Abdul Somad (UAS), artinya memang dari dua pilihan ini pak prabowo ada disana. Justru kalau kita tidak mendukung Pak Prabowo itu kita tidak di ijtima ulama, jadi dia masuk, walaupun ngga sepenuhnya," terangnya.

Selain itu, dirinya juga mengatakan jika nama Sandiaga Uno yang kemudkian terpilih menjadi cawapres dapat diterima dengan baik oleh pihaknya. Yang menjadi alasannya yakni karena pada Pilgub DKI 2017 lalu Sandi juga didukung oleh umat. Disamping itu, lanjut Kholid pada Pilgub DKI itu, PKS sendiri juga turut mengusung Sandiaga Uno untuk mendampingi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. "Jadi, sosok Sandi ini bagi PKS saya kira tidak resisten. Jadi mewakili dan direkomendasikan pilihan umat juga artinya kita bisa komunikasikan dengan konsetuen sosok Sandi ini seperti itu. Dan apalagi kita melihat Sandi ini, Prabowo dengan Sandi ini sosok yang menurut kami paling elegan," pungkasnya.