BREAKINGNEWS.CO.ID- Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Kongres Advokat Indonesia (KAI) DKI Jakarta, menggelar Rapat Kerja Daerah (Rakerda), tepatnya di Villa Rutama, Cisarua, Bogor, Jawa Barat selama dua hari, 12-13 September 2018.
 
Acara ini dihadiri ratusan advokat dan petinggi – petinggi advokat KAI DKI Jakarta, mengusung tema “DPD KAI Siap Menyambut Tahun Politik 2019” dengan subtema “Meningkatkan Sinergi KAI dengan IPHI yang Merupakan Cikal Bakal Berdirinya KAI dan Mendukung Pelaksanaan e-Court oleh Peraturan Mahkamah Agung RI”.
 
Dikatakan, Ketua DPD KAI DKI Jakarta, MM. Ardy Mbalembout, SH., MH, bahwa pelaksaan Rakerda KAI ini dalam rangka menyatukan pemikiran para advokat menyambut tahun politik 2019,  dimana rakyat Indonesia akan memilih Presiden dan Wakil Presiden sekaligus memilih anggota DPD, DPR, dan DPRD Provinsi/Kabupaten dan Kota.
 
Masih diungkapkan Ketua DPD KAI DKI Jakarta, bahwa hasil dari Rakerda KAI DKI Jakarta, menghasilkan beberapa agenda kerja DPD KAI, baik jangka panjang maupun jangka pendek. Dimana dalam perjalanannya, organisasi KAI telah menghasilkan ribuan advokat yang hebat-hebat dan membanggakan organisasi.
 
“Ini yang kemudian, kenapa KAI begitu solid dan kompak sampai hari ini. Karena Kongres Advokat Indonesia (KAI), saat ini merupakan sebuah organisasi advokat terbesar dan terkuat di Indonesiai. Dan memiliki anak cabang di seluruh kota Provinsi dan Kabupaten/Kota di Indonesia,” 
 
Sambutan Ketua Dewan Penasehat KAI, H. Rusdi Taher SH.,MH, menekankan bahwa para Advokat perlu memiliki 4 pedoman. Pertama, Integritas, Kedua, Patriotisme, Ketiga, Toleransi, Keempat, Nasionalisme. Disingkat IPTN. Empat hal ini dikatakan Rusdi,   menjadi advokat itu jangan mencontoh advokat yang berpaham hedonisme, yang mendewa-dewakan kemewahan. “Jadilah advokat yang baik yang memperjuangkan kebenaran dan keadilan, karena rizki itu Allah yang mengatur,” saran Rusdi yang juga mantan Anggota DPR/MPR RI ini.
 
Karenanya Advokat harus memiliki jiwa IPTN (Idealisme, Patriotisme, Toleransi dan Nasionalisme). Cita-cita ini menurut Rusdi harus ada, dan jangan hany Hba bercita-cita agar cepat kaya dan cepat memiliki Lamborgini.
 
Peserta dan juga Panitia acara Rakerda, Tobby Ndiwa SH mengusulkan, dalam rangka menghadapi era MEA kemampuan bahasa inggris hukum advokat KAI menjadi sebuah keharusan. Karena advokat negara-negara asean boleh menangani persoalan hukum klienya di semua negara yang tergabung dalam mea. Meski ini sesuatu yg tidak mudah, namun minimal untuk advokasi yang sifatnya masih ranah non litigasi.
 
Untuk itu kami memdorong DPP KAI melalui DPD KAI Jakarta untuk membuat terobosan melakukan khursus bahasa inggris hukum advokat kai bekerja sama dengan universitas/ perguruan tinggi. Selanjutnya peserta yang telah lulus ujian diberi sertifikasi sebagai referensinya dalam menjalankan fungsi advokatnya  dalam mendampingi klien orang warga asing yg tidak mampu berbahasa indonesia. Minimal dalam scoup nasional.
 
Peserta Plasidus Asis Deornay, SH, juga menegaskan soal eksistensi advokat. Dikatakannya, advokat adalah salah satu pilar penegakan hukum. Kongres Advokat Indonesia adalah organisasi advokat yg patut diperhitungkan saat ini. Karena itu, penting bagi KAI untuk menghidupkan kembali peran media internalnya, seperti website, WA, Twitter, Instagram, dan melakukan kerjasama dgn media lainnya, selain agar KAI ini dikenal publik, para advokat yg tergabung dalam organisasi ini dapat dikenal dan mendapatkan job dari masyarakat atau publik yg membutuhkan jasa Advokat.
 
Sedangkan, Milka Sakindeho SH MH, menegaskan advokat KAI DKI Jakarta, mengingatkan agar advokat KAI DKI Jakarta, perlu memiliki keyakinan dan kekuatan baru terkait hidup matinya Organisasi KAI. Advokat KAI adalah pilar terdepan menjaga Marwah organisasi ini. Perlu saling menghargai dan menghormati satu dengan yang lainnya.