BREAKINGNEWS.CO.ID - Mantan pengacara Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab, Kapitra Ampera mengatakan bahwa Arab Saudi merupakan sebuah negara yang berdaulat.

Selain itu, ia juga menilai jika Saudi tidak bergantung dengan negara lain apapun, termasuk dengan Indonesia. Selain itu, ia juga mengatakan tidak ada yang bisa mengintervensi hukum di Saudi.

Hal itu disampaikan Kapitra menanggapi pernyataan Koordinator Forum Rakyat, Lieus Sungkharisma yang menyinggung adanya upaya kriminalisasi terhadap Rizieq di kediamannya di Arab Saudi. Lieus menyebut jika keamanan, kenyamanan, kemerdekaan bergerak, dan keselamatan Rizieq di dalam negeri juga terancam.

"Saya pikir apa yang disampaikan itu adalah hoax. Apa yang disampaikan itu merupakan suatu kebohongan," kata Kapitra kepada breakingnews.co.id saat dihubungi, Selasa (8/1/2019).

Alasan dirinya mengatakan itu adalah hoax adalah karena dirinya berada dalam sejarah itu. Bahkan dirinya mengaku sebagai pilar besar dalam kasus yang menimpa Rizieq.

"Tuduhan seperti itu saya kira bukan tuduhan yang bisa dipertanggungjawabkan ya. Malahan itu cenderung kedalam fitnah besar. Saya kira itu juga fitnah terbesar abad ini yang menuduh Jokowi melanggar HAM-nya Habib Rizieq," tuturnya.

"Karena presiden Jokowi sendiri selama ini tidak pernah bersentuhan dengan Habib Rizieq. Jokowi pun juga tidak pernah membenci Habib Rizieq meskipun Presiden Jokowi dituduh macam-macam," imbuh Kapitra yang juga politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu.

Seperti diberitakan sebelumnya, Lieus, potensi pelanggaran HAM terhadap Habib Rizieq mulai terjadi sejak terbitnya Surat Penghentian Penyidikan Perkara (SP3) atas kasus dugaan penghinaan Pancasila dan kasus dugaan pornografi pada Mei dan Juli tahun 2018 lalu.

“Sejak itu gerak sejumlah teror mulai mengancam Habib Rizieq dan gerakannya juga mulai dibatasi. Diantaranya Habib Rizieq dikenai pencekalan. Dan bahkan ketika ia sudah mengungsi ke Arab Saudi pun, setiap pergerakannya selalu diikuti dan diawasi. Habib Rizieq juga diinterogasi secara sewenang-wenang. Kasus terakhir yang menimpanya adalah rekayasa pemasangan bendera ISIS di dinding rumahnya," tutur Lieus, Senin (7/1/2019).

Selain itu, Lieus juga menuding bahwa kasus Rizieq merupakan pelanggaran HAM berat rezim Jokowi.