BREAKINGNEWS.CO.ID - Koordinator juru bicara (jubir) Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Dahnil Anzar Simanjuntak turut menanggapi terkait dengan bebasnya terpidana terorisme, Ustad Abu Bakar Ba’asyir. Menurutnya, atas dasar kemanusiaan, bebasnya Ustad Abu Bakar Ba'asyir patut disyukuri.

"Pertama, kami bersyukur ya atas dasar kemanusiaan, kemudian Ustad Abu Bakar Ba'asyir dibebaskan. Kedua, kemudian setahu kami memang sudah waktunya beliau bebas, Desember 2018 kemarin kan beliu menolak dibebaskan bersyarat. Nah, sekarang kan beliau bebas tanpa syarat," kata Dahnil kepada wartawan saat ditemui usai diskusi yang mengusung tema 'Panggung Dramaturgi Debat Capres' di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (19/1/2019).

Selain itu, dirinya pun mengingatkan agar jangan lupa bahwa Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) juga telah mengajukan permohonan agar Ustad Ba'asyir dibebaskan dengan alasan faktor usia.

"Dan jangan lupa, tahun lalu permohonan Komnas HAM yang di tandatangani oleh Mbak Siane anggota Komnas yang sekarang adalah di Badan Pemenangan Nasional (BPN) itu menyebutkan sudah mengajukan permohonan agar beliau dibebaskan. Karena apa? karena faktor uzur usia kesehatan. Tapi kemudian masih ditolak oleh Ustad Ba'asyir, tapi kemudian sekarang ya beliau bebas tanpa syarat," tegasnya.

Namun, apakah bebasnya Ba'asyir juga terkait dengan keuntungan Jokowi di Pilpres 2019? Dahnil pun enggan mengomentari secara rinci. Dirinya hanya mengatakan bahwa publik sendiri bisa menilai apakah hal ini bisa dikaitkan dengan politik atau tidak.

"Saya kira publik pasti bisa menilai, pasti ada kaitan dengan poltik. Pasti publik paham, kami tak perlu menjelaskan lagi," ujarnya. "Bagi umat Islam, bagi kelompok lain pasti paham bahwasanya selama ini stigmatisasi Islam itu teroris itu harus selalu dialamatkan kepada Islam. Kemudian tiba-tiba menjelang pemilu sekarang berbaik-baik. Semua orang bisa menilai," tegasnya.

Seperti diketahui, Ustadz Baasyir yang kini berusia 80 tahun divonis 15 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dalam sidang yang digelar Juni 2011. 

Ustadz Ba'asyir dinyatakan terbukti merencanakan dan menggalang dana untuk pembiayaan pelatihan militer kelompok teroris yang mengadakan latihan bersenjata di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam.