BREAKINGNEWS.CO.ID - Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, menuturkan akan melanjutkan kerja sama dalam bidang keamanan dengan Israel, setelah Amerika Serikat (AS) menarik seluruh bantuan sejak pekan lalu.

Seperti dilansir Associated Press, Rabu (6/2/2019), Abbas menyatakan bahwa Palestina mempunyai perjanjian kontra terorisme dengan seratus negara, termasuk Israel. Menurut dia apapun yang terjadi kesepakatan itu harus dihormati. "Kami punya perjanjian untuk memerangi terorisme dengan Israel dan tidak akan melanggarnya. Sebab jika terjadi maka tidak ada lagi yang tersisa," kata Abbas di depan pertemuan pegiat Palestina dan Israel.

Abbas berharap suksesi kepemimpinan di Israel dimenangkan oleh kelompok yang memberi dukungan terhadap perdamaian. AS memutuskan mengakhiri seluruh bantuan terhadap Palestina pada 31 Januari 2019 lalu, sesuai dengan tenggat waktu yang telah ditetapkan. Menurut Undang-Undang Klarifikasi Anti-Terorisme, (ATCA) pemerintah AS bisa menuntut para penerima bantuan di pengadilan Negeri Paman Sam apabila diduga terlibat perkara terorisme.

Otoritas Palestina memilih menolak seluruh bantuan AS dikarenakan beleid (cara/langkah) itu, daripada dipermasalahkan di kemudian hari. Mereka juga kehilangan sokongan anggaran sebesar 60 juta dolar AS atau sekitar 851,2 miliar rupiah untuk membantu kegiatan kepolisian setempat untuk mengamankan wilayah. AS memutuskan mengakhiri seluruh bantuan terhadap Palestina pada 31 Januari lalu, sesuai dengan tenggat yang telah ditetapkan. Menurut Undang-Undang Klarifikasi Anti-Terorisme, (ATCA) pemerintah AS bisa menuntut para penerima bantuan di pengadilan Negeri Paman Sam jika diduga terlibat perkara terorisme.

Otoritas Palestina memilih menolak seluruh bantuan AS gara-gara beleid itu, ketimbang dipermasalahkan di kemudian hari. Mereka juga kehilangan sokongan anggaran sebesar 60 juta dolar AS atau sekitar 851,2 miliar rupiah untuk membantu kegiatan kepolisian setempat untuk mengamankan wilayah. Pejabat senior Palestina, Saeb Erekat, beberapa waktu lalu menyatakan memang memilih menampik seluruh bantuan AS. Dia mengaku khawatir Palestina dapat menjadi target tuntutan berlandaskan ATCA.

AS menuding Palestina mendukung tindak kekerasan dengan memberikan bantuan bagi keluarga atau tahanan yang tewas saat melancarkan serangan ke Israel. Palestina berdalih bahwa mereka memberikan dana itu untuk membantu warganya yang kehilangan kemampuan mencari penghasilan, bukan berarti mendukung kekerasan. Warga Palestina sendiri menganggap orang-orang yang tewas saat melakukan perlawanan terhadap Israel sebagai pahlawan.