Gebrakan film Mongolia di Festival Film Cannes

Film ini sukses menjadi penanda era baru industri film Mongolia. Dan pemerintah siap mendukung.

Gebrakan film Mongolia di Festival Film Cannes

Kru film di Festival Film Cannes. Foto : Facebook .

Film besutan sutradara asal Mongolia dengan judul If Only I Could Hibernate mencatat sejarah, dengan menjadi film Mongolia pertama yang diputar dalam Festival Film Cannes. Film ini menjadi salah satu yang terpilih dari sekitar 2.000 film dan kini berkesempatan untuk berkompetisi memenangkan penghargaan. Film ini termasuk ke dalam bagian Un Certain Regard, yang menampilkan berbagai kisah asli dan beragam dari berbagai penjuru dunia.

If Only I Could Hibernate menampilkan kisah tentang lelaki Mongolia muda berusia 15 tahun bernama Ulzii, yang hidup di dalam ger (yurt), sebutan untuk distrik yang berada di pinggiran  ibukota Mongolia, Ulaanbaatar. Keahlian Ulzii dalam olahraga berada di atas rata-rata, dan gurunya mendorong untuk mengikuti lomba olahraga nasional. Tujuannya adalah agar bisa mendapatkan beasiswa, sehingga Ulzii bisa bersekolah di sekolah terbaik. Keluarga ini mengalami kesulitan keuangan setelah ayahnya meninggal, dan ibunya yang pecandu alkohol tidak kunjung mendapatkan pekerjaan.

Berikut cuplikan filmnya, yang ditampilkan di laman Facebook resmi film tersebut.

Rencana pendidikan Ulzii berubah ketika ibunya pindah ke desa untuk mencari kerja dan meninggalkannya bersama dua adiknya. Harapannya untuk mendapatkan masa depan yang lebih terhalang resiko kehilangan pekerjaan, yang dilakukan untuk menghidupi keluarganya selama musim dingin yang keras. Judul film ini diambil dari kata-kata saudara Ulzii, yang berharap mereka dapat berhibernasi seperti  beruang dan tidak usah khawatir soal cuaca saat musim dingin.

Film ini merefleksikan pengalaman pribadi Purevdash. Ibunya memiliki toko di salah satu ger. Dalam kesehariannya, dia melihat berbagai jenis orang yang hidup di wilayah tersebut – beberapa hidup nomaden, ada yang hidup dalam situasi yang sulit, ada orangtua yang membeli alkohol untuk dirinya, dan bukan makanan untuk anak-anaknya, yang hanya dbelikan permen murah. Ketika mendiskusikan motivasi untuk membuat film ini, dia menambahkan, “Saya ingin membuat sesuatu bagi anak-anak yang masih polos itu, sebuah cerita yang dapat membuat mereka senang atau memberikan harapan.

Berikut ini wawancara dengan Zoljargal Purevdash, sang sutradara film.

[embedded content]

Selain memberikan harapan dan inspirasi bagi kaum muda yang tidak terlalu beruntung, film ini menyoroti juga isu utama di Ulaanbaatar, yaitu polusi udara. Sejak ger tidak lagi terhubung dengan sistem pemanas kota, para penduduk menggunakan batubara untuk membuat mereka tetap hangat selama musim dingin yang panjang dan keras, ketika suhu dapat turun menjadi -30 derajat Celcius. Ulaanbaatar memiliki populasi 1,5 juta penduduk, 60 persen tinggal di ger, dan mereka kerap disalahkan karena menjadi penyebab tingginya polusi udara di kota. Tujuan Purevdash adalah untuk membangun hubungan dan saling pengertian di antara kelompok yang berbeda, serta menunjukkan bahwa tidak seorangpun di ger mempunyai maksud buruk ketika menggunakan batubara untuk pemanas. “Saya ingin orang-orang dapat saling mengerti, merasakan dan dekat dengan perjuangan serta kebahagiaan satu dengan lainnya,” jelas Purevdash.

Film ini sukses menjadi salah satu penanda era baru industri film di Mongolia. Dan pemerintah siap untuk berkontribusi. Pada 2022, dibentuk Mongolian National Film Council dan Mongolian Film Fund, yang dapat memberi bantuan bagi pembuat film sekitar 45% dari biaya produksi, dengan pengeluaran minum sebesar USD 500.000. If Only I Could Hibernate merupakan film pertama Purevdash. Dengan sistem yang siap mendukung perfilman industri lokal, dia berencana untuk membuat beberapa film. Dengan debut yang impresif seperti ini, setiap orang akan menonton film besutan Purevdash selanjutnya.